DETEKSI DINI AWAL KEGAWATDARURATAN PADA KALA III (RETENSIO PLASENTA, INVERSIO UTERI DAN ANCAMAN ROBEKAN RAHIM) KEGAWATDARURATAN PADA KALA IV ( PERDARAHAN POST PARTUM, ROBEKAN JALAN LAHIR)

 

Deteksi Dini awal kegawatdaruratan pada kala III (Retensio Plasenta, Inversio Uteri dan Ancaman Robekan Rahim)

Retensio Plasenta

 

1.     Pengertian 

Retensio plasenta merupakan sisa plasenta dan ketuban yang msih tertinggal dalam rongga rahim. Hal ini dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini atau perdarahan pospartum lambat (6-10 hari) pasca postpartum.

 

2.    Penyebab

Menurut Rustam Muchtar dalam bukunya Sinopsis Obstetri (1998) penyebab rentensio plasenta adalah :

 

a.  Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh terlalu melekat lebih dalam, berdasarkan tingkat perlekatannya dibagi menjadi :

- Plasenta adhesive, yang melekat pada desidua endometrium lebih dalam. Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta.

- Plasentaa    akreta,  implantasi   jonjot    khorion    memasuki    sebagian miometriun

-         Plasenta inkreta, implantasi menembus hingga miometriun

- Plasenta perkreta, menembus sampai serosa atau peritoneum dinding rahim Plasenta normal biasanya menanamkan diri sampai batas atas lapisan miometrium.


 

b. Plasenta sudah lepas tapi belum keluar, karena :

 

-   Atonia uteri adalah ketidak mampuan uterus untuk berkontraksi setelah bayi lahir. Hal ini akan menyebabkan perdarahan yang banyak

-     Adanya lingkaran kontriksi pada bagian rahim akibat kesalahan

-     penanganan kala III sehingga menghalangi plasenta keluar (plasenta inkarserata)


c.  Penyebab lain :

Kandung kemih penuh atau rectum penuh Hal-hal diatas akan memenuhi ruang pelvis sehingga dapat menghalangi terjadinya kontraksi uterus yang efisien. Karena itu keduanya harus dikosongkan. Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan, tapi bila sebagian plasenta sudah lepas akan terjadi perdarahan dan ini merupakan indikasi untuk segera dikeluarkan.

 

3.     Gejala

-  Plasenta belum lahir setelah 30 menit

-  Perdarahan segera (P3)

-  Uterus berkontraski dan keras, gejalan lainnya antara lain

-  Tali pusat putus akibat traksi berlebihan

-  Inversio uteri akibat tarikan dan

-  Perdarahan lanjutan

 

4.    Penatalaksanaan Retensio Plasenta

 Plasenta Manual dilakukan dengan :

-  Dengan narkosis

-  Pasang infus NaCl 0.9%

-  Tangan kanan dimasukkan secara obstetrik ke dalam vagina

-  Tangan kiri menahan fundus untuk mencegah korporeksis

-  Tangan kanan menuju ostium uteri dan terus ke lokasi plasenta

-  Tangan ke pinggir plasenta dan mencari bagian plasenta yang sudah lepas

-  Dengan sisi ulner, plasenta dilepaskan

 

Pengeluaran isi plasenta :

  Pengeluaran Isi Plasenta dilakukan dengan cara kuretase

  Jika memungkinkan sisa plasenta dapat dikeluarkan secara manual

  Kuretase harus dilakukan di rumah sakit

  Setelah tindakan pengeluaran, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau peroral

  Antibiotika dalam dosis pencegahan sebaiknya diberikan


Inversio Uteri

1.        Pengertian

Inversio uterus merupakan komplikasi persalinan yang sangat serius berupa kondisi kolaps fundus yang mencapai kavitas endometrium. Umumnya, pasien dengan inversio uterus datang ke fasilitas kesehatan dengan kondisi postpartum. Akan tetapi, pada beberapa kasus yang jarang, inversio uterus dapat terjadi tanpa adanya persalinan.

Etiologi inversio uterus umumnya terjadi karena kesalahan tata laksana pada persalinan kala tiga akibat dilakukannya traksi tali pusat eksesif dan tekanan fundus uteri sebelum separasi plasenta saat persalinan kala tiga. Inversio uterus juga dapat terjadi tanpa ada hubungannya dengan kehamilan.

 

2.  Etiologi Inversio Uterus yang Berhubungan dengan Kehamilan

Inversio uterus yang berhubungan dengan kehamilan terjadi saat persalinan kala tiga. Traksi tali pusat eksesif dan tekanan fundus uteri sebelum separasi plasenta dapat.

menyebabkan terjadinya inversio uterus. Kedua etiologi ini umumnya terjadi di negara berkembang oleh tenaga medis yang kurang terlatih.

 

3.   Faktor Risiko

Beberapa faktor risiko telah dihubungkan dengan terjadinya inversio uterus. Berikut ini merupakan faktor risiko inversio uterus:

a. Persalinan cepat

b.Plasentasi invasif

c. Pengeluaran plasenta secara manual

d. Tali pusar pendek

e.  Penggunaan agen relaksasi uterus

f.   Distensi uterus berlebih

g.  Atonia uteri

h.  Janin makrosomnia

i.   Nullipara

j.   Plasenta previa

k.    Kelainan jaringan ikat, seperti sindroma Marfan dan sindroma Ehler-Danlos

4.     Riwayat inversio uterus pada kehamilan sebelumnya

Tata Laksana Awal

Tata laksana awal inversio uterus harus dilakukan secara cepat untuk mencegah risiko kematian pada pasien. Penanganan awal pasien inversio uterus bertujuan untuk menstabilkan hemodinamik pasien. Berikut ini merupakan penanganan awal inversio uterus: Persiapan operasi cito. Tindakan operatif umumnya diperlukan apabila reposisi manual tidak berhasil

· Stabilisasi hemodinamik dengan resusitasi cairan

· Jangan melepaskan plasenta sebelum uterus dalam posisi normal

· Pemberhentian obat uterotonik, karena posisi relaksasi uterus dibutuhkan untuk tindakan reposisi [2,3,6,15]

· Stabilisasi hemodinamik dilakukan dengan pemasangan dua jalur intravena dengan ukuran kateter intravena besar, minimal 16 gauge, secara cepat. Setelah itu, segera lakukan resusitasi menggunakan cairan kristaloid. Pengambilan darah juga dapat dilakukan untuk pemeriksaan tes laboratorium, seperti pemeriksaan darah lengkap, studi koagulasi, dan golongan darah serta rhesus untuk persiapan transfusi darah.

  

Ancaman Robekan Rahim

1.  Pengertian

 

Pengertian rahim robek atau yang dalam istilah medis disebut dengan ruptur uteri adalah kondisi yang terjadi ketika ada robekan pada dinding rahim.Sesuai dengan


namanya, rupture uteri adalah kondisi yang dapat membuat seluruh lapisan dinding rahim robek sehingga membahayakan kesehatan ibu dan bayinya.Tidak menutup kemungkinan, ruptur uteri bisa mengakibatkan perdarahan hebat pada ibu dan bayi yang tertahan di dalam rahim.

Meski begitu, risiko terjadinya rupture uteri atau rahim robek selama proses persalinan sangatlah kecil.Angka ini berkisar kurang dari 1 persen atau hanya 1 dari 3 wanita yang berisiko mengalami ruptur uteri saat melahirkan.


2.   Risiko ibu mengalami rahim robek

 

Risiko ibu mengalami rahim robek memang meningkat jika pernah melakukan operasi caesar, terutama bila bekas operasi merupakan sayatan vertikal di bagian atas rahim. Oleh sebab itu, dokter cenderung menyarankan ibu hamil menghindari persalinan normal melalui vagina jika sebelumnya pernah melakukan operasi caesar. Selain itu, faktor risiko ruptur uteri yang lain, di antaranya:

a.Pernah melahirkan sebanyak 5 kali atau lebih

b.Rahim yang terlalu besar atau buncit karena banyaknya cairan ketuban atau mengandung bayi kembar

c.Plasenta yang menempel terlalu dalam pada dinding rahim

d.Kontraksi yang terlalu sering dan kuat, baik terjadi secara tiba-tiba, akibat obat-obatan tertentu, maupun solusio plasenta (lepasnya plasenta dari dinding rahim)

e.Trauma rahim

f.Proses persalinan yang lama karena ukuran bayi terlalu besar bagi panggul ibu.

 


3. Gejala yang timbul yaitu :

 

· Perdarahan vagina

· Nyeri luar biasa saat kontraksi

· Kontraksi yang lambat atau kurang intens

· Sakit perut atau nyeri yang tidak biasa

· Resesi kepala janin (kepala bayi bergerak kembali ke jalan lahir)

· Menggembung di bawah tulang kemaluan (kepala bayi telah menonjol di luar bekas luka uterus)

· Rasa nyeri yang tajam di bagian bekas luka sebelumnya

· Uterus atonia (melemahnya otot rahim)

· Denyut jantung cepat dan hipotensi (tekanan darah rendah abnormal)


                Deteksi Dini Kegawatdaruratan pada kala IV( Perdarahan Robekan Jalan                    lahir dan pendarahan postpartum)

Robekan jalan lahir

 

1.    Pengertian

Serviks mengalami laterasi pada lebih dari separuh pelahiran pervaginatum, sebagian besar berukuran kurang dari 0.5 cm. Robekan yang dalam dapat meluas ke sepertiga atas vagina. Cedera terjadi setelah setalah rotasi forceps yang sulit atau pelahiran yang dilakukan pada serviks yang belum membuka penuh dengan daun forseps terpasang pada serviks. Robekan dibawah 2 cm dianggap normal dan biasanya cepat sembuh dan jarang menimbulkan kesulitan.

 

2.    Gejala :

 

·  Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir

·  Uterus kontraksi dan keras

·  Plasenta lengkap, dengan gejala lain

·  Pucat, lemah, dan menggigil

 

3.    Tingkatan Robekan

 

Berdasarkan tingkat robekan, maka robekan perineum, dibagi menadi tingkatan yaitu:

Tingkat I: Robekan hanya terdapat pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perineum

Tingkat II: Robekan mengenai selaput lendir vagina dan otot perinei transversalis, tetapi tidak mengenai sfringter ani

Tingkat III: Robekan mengenai seluruh perineum dan otot sfingter ani Tingkat IV: Robekan sampai mukosa rectum

 

4.   Penatalaksanaan Robekan jalan lahir

 

Penatalaksanaan robekan tergantung pada tingkat robekan. Penatalaksanaan pada masing-masing tingkat robekan adalah sebagai berikut :

Robekan perineum tingkat I : Dengan cut gut secara jelujur atau jahitan angka delapan (figure of eight)

 

Robekan perineum tingkat II :

 

-   Jika dijumpai pinggir robekan yang tidak rata atau bergerigi, harus diratakan lebih dahulu

-   Pinggir robekan sebelah kiri dan kanan dijepit dengan klem kemudian digunting

-   Otot dijahit dengan catgut, selaput lendir vagina dengan catgut secara terputus-putus atau jelujur. Jahitan mukosa vagina dimulai dari puncak

robekan, sampai kulit perineum dijahit dengan benang catgut secara jelujur.

 

Robekan perineum tingkat III (Kewenangan dokter)

 

-   Dinding depan rektum yang robek dijahit

-   Fasia perirektal dan fasial septum rektovaginal dijahit dengan catgut kromik

-   Ujung-ujung otot sfingter ani yang terpisah akibat robekan dijepit dengan klem, kemudian dijahit dengan 2-3 jahitan catgut kromik

-  Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis seperti menjahit robekan perineum tingkat II

 

Robekan perineum tingkat IV (Kewenangan dokter)

Dianjurkan apabila memungkinkan untuk melakukan rujukan dengan rencana tindakan perbaikan di rumah sakit kabupaten/kota

Robekan dinding Vagina

 

-   Robekan dinding vagina harus dijahit

-   Kasus kalporeksis dan fistula visikovaginal harus dirujuk ke rumah sakit. Ingatlah bahwa robekan perineum tingkat III dan IV bukan kewenangan bidan untuk melakukan penjahitan.

Perdarahan Kala IV Primer

 

1.    Pengertian

Perdarahan kala IV atau primer adalah perdarahan sejak kelahiran sampai 24 jam pascapartum atau kehilangan darah secara abnormal, rata-rata kehilangan darah selama pelahiran pervaginam yang ditolong dokter obstetrik tanpa komplikasi lebih dari 500 ml.

 

2.   Penyebab perdarahan kala IV Primer

a.    Atonia uteri

b.    Retensio plasenta

c.    Laserasi luas pada vagina dan perineum Sangat jarang laserasi segmen bawah uterus atau ruptur uterus

 

3.   Penatalaksanaan Perdarahan Kala IV Primer

Perdarahan harus minimal jika uterus wanita berkontraksi dengan baik setelah kelahiran plasenta. Jika ada aliran menetap atau pancaran kecil darah dari vagina, maka bidan harus mengambil langkah berikut :

a.  Periksa konstensi uterus yang merupakan langkah pertama yang berhubungan dengan atonia uterus.

b. Jika uterus bersifat atonik, massase untuk menstimulasi kontraksi sehingga pembuluh darah yang mengalami perdarahan

c.  Jika perdarahan tidak terkendali minta staf perawat melakukan panggilan ke dokter

d. Jika rest plasenta atau kotiledon hilang lakukan eksplorasi uterus, uterus harus benar-benar kosong agar dapat berkontraksi secara efektif.

e.  Jika uterus kosong dan berkontraksi dengan baik tetapi perdarahan berlanjut periksa pasien untuk mendeteksi laserasi serviks, vagina dan perineum, karena mungkin ini merupakan penyebab perdarahan (ikat sumber perdarahan dan jahit semua laserasi).

f.   Jika terjadi syok (penurunan tekanan darah, peningkatan denyut nadi, pernafasan cepat dan dangkal, kulit dingin lembab) tempatkan pasien dalam posisi syok posisi trendelemburg, selimuti dengan selimut hangat. Beri oksigen dan programkan darah ke ruangan.

g.   Pada kasus ekstreem dan sangat jarang ketika perdarahan semakin berat, nyawa pasien berada dalam bahaya dan dokter belum datang, lakukan kompresi autik dapat dilakukan pada pasien yang relatif kurus (kompresi aorta perabdomen terhadap tulang belakang).

 

 

Perdarahan Post Partum

 

1. Pengertian

 

Perdarahan post partum atau primer adalah perdarahan sejak kelahiran sampai 24 jam pascapartum.atau kehilangan darah secara abnormal, rata-rata kehilangan darah selama pelahiran pervaginam yang ditolong dokter obstetrik tanpa komplikasi lebih dari 500 ml.


2. Penyebab perdarahan post partum

 

a.  Atonia uteri

 

b.  Retensio plasenta

 

c. Laserasi luas pada vagina dan perineum Sangat jarang laserasi segmen bawah uterus atau ruptur uterus

 

 

3.  Faktor Risiko Perdarahan Postpartum

Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kejadian perdarahan postpartum, yaitu:

 

·  Persalinan lama.

·  Bayi dalam janin lebih dari satu.

·  Episiotomi (tindakan membuka jalan lahir dengan memberikan potongan di sekitar jalan     lahir).

·  Bayi besar lebih dari 4000 gr.

·  Riwayat perdarahan sebelumnya.

·  Anemia saat hamil.

·  Usia kehamilan terlalu tua (lebih dari 38 tahun).

 

4.  Gejala Perdarahan Postpartum

Gejala yang timbul berupa perdarahan dari jalan lahir yang keluar segera setelah persalinan. Di dalam darah yang keluar biasanya mengandung darah, beberapa bagian dari jaringan otot uterus, mukus atau lendir, dan sel darah putih.

Pada keadaan yang normal darah yang keluar segera setelah melahirkan kurang dari 500cc. Namun, pada keadaan ketika perdarahan postpartum merupakan sebuah kelainan, darah yang muncul lebih dari 500cc. Keadaan tersebut disertai gejala lain:

 

·  Darah berwarna merah segar.

·  Nyeri pada perut bawah.

·  Demam.

·  Pernapasan cepat.

·  Keringat dingin.

  ·  Penurunan kesadaran


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DETEKSI DINI POST PARTUM BLUES, PSIKOSA POST PARTUM, DAN DEPRESI POSTPARTUM