DAYA KASIH KRISTUS KOMUNIKASI YANG MENYEMBUHKAN DAN DETEKSI DINI PENDARAHAN HAMIL MUDA, PENDARAHAN ANTEPARTUM DALAM KEHAMILAN
A. PENGERTIAN AKTIVITAS KASIH KRISTUS DAN LATIHAN
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain” (1 Korintus 13:4-5) )Sebenarnya kalau berbicara tentang kasih, ga hanya ada di ayat itu tapi kamu akan banyak menemukan juga di ayat dan kitab lainnya.
B. KOMUNIKASI EFEKTIF
Langkah
– langkah membangun komunikasi yang efektif
a.
Bertanya
Bertanya
merupakan teknik yang dapat mendorong klien untuk mengungkapkan perasaandan
pikirannya.
b.
Mendengarkan
Mendengarkan
merupakan dasar utama dalam komunikasi hal ini disebabkan dengan mendengarkan
kita dapat mengolah secara konprehensif semua stimuli dan pesan yang kita
terima, sampai kita dapat memahami dan mengingat dengan cermat pada gilirannya
akan menjadi bekal penting untuk melakukan proses komunikasi yang efektif.
c.
Mengulang
Maksud mengulang yaitu mengulang kembali pikiran utama yang telah diekspresikan oleh klien.
d.
Klarifikasi
Klarifikasi
adalah menjelaskan kembali ide atau pikiran klien yang tidak jelas atau meminta
klien untuk menjelaskan arti dari ungkapannya.
e.
Refleksi
Refleksi
adalah mengarahkan kembali ide, perasaan, pertanyaan dan isi pembicaraan pada
klien.
f.
Memfokuskan
Langkah
memfokuskan bertujuan memberi kesempatan kepada klien untuk membahas masalah
inti dan mengarahkan komunikasi klien pada mencapaian tujuan, dengan demikian
akan terhindar dari pembicaraan tanpa arah.
g.
Diam (memelihara ketenangan)
Langkah
diam digunakan untuk memberikan kesempatan pada klien sebelum menjawab
pertanyaan bidan.
h.
Memberi informasi
Memberi
informasi merupakan tindakan penyuluhan kesehatan untuk klien. Agar informasi
dapat diterima dengan baik, perlu kecakapan yang mesti diperhatikan
Gunakan
bahasa yang mudah dimengerti.
Jangan
menggunakan istilah yang tidak dimengerti.Tidak perlu tergesa-gesa atau
berambisi dalam menyampaikan informasi.Hindari kata-kata yang sifatnya
mengancam
Ulangi
informasi yang penting. Gunakan empati yaitu dapat merasakan apa yang dapat
dirasakan.
i.
Menyimpulkan
Menyimpulkan
adalah teknik komunikasi yang membantu klien mengeksplorasi poin penting dari
interaksi bidan – klien.
C.
DETEKSI
DINI PENDARAHAN HAMIL MUDA
Kondisi yang dapat menimbulkan tanda bahaya adalah perdarahan, yang dapat dimungkinkan karena terjadi abortus, dan kehamilan ektopik terganggu (KET) ataupun molahydatidosa.Namun demikian ketiganya ini mempunyai tanda dan gejala yang spesifik dan dapat dilihat dalam uraian dibawah ini.
D. ABORTUS
1.
Pengertian abortus
·
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup diluar kandungan. WHO IMPAC menetapkan batas usia kehamilan kurang
dari 22 minggu namun beberapa acuan terbaru menetapkan batas usia kehamilan
kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram.
·
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin dari 500 gram.
·
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibatakibat tertentu)
pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan
belum mampu untuk hidup di luar kandungan (Saifuddin, 2008).
·
Abortus adalah
keluarnya hasil konsepsi sebelum mampu hidup diluar kandungan dengan berat
kurang dari 1000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu
2.
Etiologi abortus
Penyebab abortus
(early pregnancy loss) bervariasi dan sering diperdebatkan.Umumnya lebih dari
satu penyebab. Penyebab terbanyak di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Kelainan
pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi yang dapat
mengakibatkan kematian dan atau dilahirkannya hasil konsepsi dalam keadaan
cacat. Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kelainan hasil konsepsi adalah:
·
Kelainan kromosom
·
Lingkungan kurang sempurna
·
Pengaruh dari luar
b. Kelainan pada plasenta
Keadaan
ini biasa terjadi sejak kehamilan muda misalnya karena hipertensi
menahun.Infeksi pada plasenta dengan berbagai sebab, sehingga palsenta tidak
dapat berfungsi.Gangguan pembuluh darah plasenta, diantaranya pada diabetes
melitus. Hipertensi menyebabkan gangguan peredaran darah palsenta sehingga
menimbulkan keguguran
c. Faktor
maternal
Penyakit-penyakit
maternal dan penggunaan obat: penyakit menyangkut infeksi virus akut, panas
tinggi dan inokulasi, misalnya pada vaksinasi terhadap penyakit cacar nefritis
kronis dan gagal jantung dapat mengakibatkan anoksia janin.
Kesalahan pada metabolisme asam folat yang
diperlukan untuk perkembangan janin akan mengakibatkan kematian janin.Penyakit
infeksi dapat menyebabkan abortus yaitu pneumonia, tifus abdominalis, pielonefritis,
malaria, dan lainnya.Toksin, bakteri, virus, atau plasmodium dapat melalui
plasenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin, kemudian terjadi
abortus.Kelainan endokrin misalnya diabetes mellitus, berkaitan dengan derajat
kontrol metabolik pada trimester pertama.selain itu juga hipotiroidism dapat
meningkatkan resiko terjadinya abortus, dimana autoantibodi tiroid menyebabkan
peningkatan insidensi abortus walaupun tidak terjadi hipotiroidism yang nyata.
d. Kelainan traktus genetalia
Abnoramalitas uterus yang mengakibatkan
kalinan kavum uteri atau halangan terhadap pertumbuhan dan pembesaran uterus,
misalnya fibroid, malformasi kongenital, prolapsus atau retroversio
uteri.Kerusakan pada servik akibat robekan yang dalam pada saat melahirkan atau
akibat tindakan pembedahan (dilatasi, amputasi).
e. Trauma
Tapi
biasanya jika terjadi langsung pada kavum uteri. Hubungan seksual khususnya
kalau terjadi orgasmedapat menyebabkan
abortus pada wanita dengan riwayat keguguran yang berkali-kali
f. Faktor
– faktor hormonal
Misalnya
penurunan sekresi progesteron diperkirakan sebagai penyebab terjadinya abortus
pada usia kehamilan 10 sampai 12 minggu, yaitu saat plasenta mengambil alih
funngsi korpus luteum dalam produksi hormon.
3.
Patofisiologi abortus
Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, villi
korialis belum menembus desidua secara dalam jadi hasil konsepsi dapat
dikeluarkan seluruhnya.Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah
lebih dalam hingga plasenta tidak dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak
perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu janin dikeluarkan terlebih
dahulu daripada plasenta hasil konsepsi keluar dalam bentuk seperti kantong
kosong amnion atau benda kecil yang tidak jelas bentuknya (blightes ovum),janin
lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fetus kompresus, maserasi atau
fetus papiraseus.
4.
Tanda dan gejala abortus
a.
Abortus iminen
·
Perdarahan flek-flek (bisa sampai beberapa hari)
·
Rasa sakit seperti saat menstruasi bisa ada atau tidak
·
Serviks dan OUE masih tertutup
·
PP test (+)
b.
Abortus insipien
·
Perdarahan banyak,
kadang-kadang keluar gumpalan darah
·
Nyeri hebat disertai
kontraksi rahim
·
Serviks atau OUE
terbuka dan/atau ketuban telah pecah
·
Ketuban dapat teraba karena
adanya dilatasi serviks
·
PP test dapat positif
atau negative
c.
Abortus inkomplit
·
Abortus ini dapat ditandai dengan sakit perut,
·
Terasa mules,
·
Perdarahan yang bisa keluar sedikit maupun banyak dan bisa berupa
stolsel,
·
Keluar fetus atau jaringan,
·
Serviks terbuka.
d.
Abortus komplit
·
Perdarahan yang sedikit
·
Ostium uteri telah menutup
·
Uterus telah mengecil
e.
Missed abortion
·
Gejala subyektif kehamilan menghilang
·
Mammae agak mengendor lagi
·
Uterus tidak membesar lagi bahkan mengecil
·
Tes kehamilan menjadi negatif, serta denyut jantung janin menghilang
·
Dengan ultrasonografi (USG) dapat ditentukan segera apakah janin sudah
mati dan besarnya sesuai dengan usia kehamilan
·
Perlu diketahui pula bahwa missed abortion kadang-kadang disertai
gangguan pembekuan darah karena hipofibrinogenemia, sehingga pemerikaan kearah
ini perlu dilakukan
f.
Abortus habitualis
·
Kehamilan triwulan kedua terjadi pembukaan serviks tanpa disertai mulas
·
Ketuban menonjol dan pada suatu saat pecah
·
Timbul mulas yang selanjutnya diikuti dengan melakukan pemeriksaan
vaginal tiap minggu
·
Penderita sering mengeluh bahwa ia telah mengeluarkan banyak lender dari
vagina
·
Diluar kehamilan penentuan serviks inkompeten dilakukan dengan
histerosalfingografi yaitu ostium internum uteri melebar lebih dari 8 mm
5.
Komplikasi abortus
a.
Pendarahan
Pendarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari
sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah.
b.
Perforasi
Perforasi uterus pada saat curretage dapat terjadi
terutama pada uterus dalam posisi hiperretrofleksi.Perforasi uterus pada
abortus yang dikerjakan oleh orang biasa menimbulkan persoalan gawat karena
perlakuan uterus biasanya luas, mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung
kemih atau usus.
c.
Infeksi
Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam
setiap abortus tetapi biasanya didapatkan pada abortus inkomplet yang berkaitan
erat dengan suatu abortus yang tidak aman (Unsafe Abortion)
d.
Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok hemoragik) dan
karena infeksi berat (syok endoseptik).
E. KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU ( KET )
1.
Pengertian Ket
Kehamilan ektopik yaitu kehamilan dimana tempat
implantasi blastosit di area manapun selain endometrium.
2.
Etiologi Ket
a.
Faktor uterus Tumor rahim yang menekan tuba, uterus hipoplastik.
b.
Faktor tuba
·
Penyempitan lumen tuba oleh karena infeksi endosalfing.
·
Tuba sempit, panjang dan berlekuk-lekuk.
·
Gangguan fungsi rambut getar (silia) tuba
·
Operasi dan sterilisasi tuba yang tidak sempurna
·
Endometriosis tuba
·
Divertikel tuba dan kelainan kongenital lainnya
·
Perlekatan peritubal dan lekukan tuba
·
Tumor lain menekan tuba
·
Lumen kembar dan sempit
c.
Faktor ovum
·
Migrasi eksternal dari ovum
·
Perlekatan membrane granulosa
·
Rapid sel devision
·
Migrasi internal ovum
F. MOLA HIDATIDOSA
1.
Pengertian mola hidatidosa
Merupakan jonjot – jonjot korion yang tumbuh berganda
berupa gelembunggelembung kecil yang mengandung banyak cairan sehingga
menyerupai buah anggur, atau mata ikan.Kelainan ini merupakan neoplasma
trofoblas yang jinak.Mola hidatidosa adalah kehamilan abnormal, dengan
ciri-ciri stroma villi korialis langka vaskularisasi, dan edematus. Janin
biasanya meninggal, akan tetapi villi-villi yang membesar dan edematus itu
hidup dan tumbuh terus, gambaran yang diberikan ialah sebagai segugus buah
anggur.
2.
Etiologi mola hidatidosa
·
Faktor ovum
·
Imunoselektif dari tropoblast
·
Keadaan sosio – ekonomi yang rendah
·
Paritas tinggi
·
Kekurangan protein
·
Infeksi virus dan faktor kromosom yang belum jelas
3.
Patofisiologis mola hidatidosa
Patofisiologis dari kehamilan mola hidatidosa yaitu karena tidak
sempurnanya peredaran darah fetus, yang terjadi pada sel telur patologik yaitu
hasil pembuahan dimana embrionya mati pada umur kehamilan 3 – 5 minggu dan
karena pembuluh darah villi tidak berfungsi maka terjadi penimbunan di dalam
jaringan masenkim villi (Sarwono, 2016).
G. PERDARAHAN ANTEPARTUM DALAM KEHAMILAN
1.
Defenisi pendarahan antepartum
Pendarahan antepartum adalah pendarah yang
terjadi setelah kehamilan 28 minggu.Biasanya lebih
banyak dan lebih berbahaya daripada pendarahan kehamilan sebelum 28 Minggu.
2.
Klasifikasi pendarahan antepartum
a. Plasenta previa
1. Pengertian
plasenta previa
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada
segmen bawah rahim sedemikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagaian
dari ostium uteri internum sehingga plasenta berada di depan jalan lahir
(Maryunani dan Eka, 2013:136).
2. Etiologi plasenta previa
·
Ovum yang dibuahi tertanam sangat rendah di dalam rahim, menyebabkan
plasenta terbentuk dekat dengan atau di atas pembukaan serviks.
·
Lapisan rahim (endometrium) memiliki kelainan seperti fibroid atau
jaringan parut (dari previa sebelumnya, sayatan, bagian bedah caesar atau
aborsi).
·
Hipoplasia endometrium: bila kawin dan hamil pada umur muda.
·
Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima
hasil konsepsi.
·
Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium.
·
Riwayat seksio sesarea sebelumnya.
·
Plasenta terbentuk secara tidak normal.
·
Kejadian plasenta previa tiga kali lebih sering pada wanita multipara
daripada primipara. Pada multipara, plasenta previa disebabkan vaskularisasi
yang berkurang dan perubahan atrofi pada desidua akibat persalinan masa lampau.
Aliran darah ke plasenta tidak cukup dan memperluas permukaannnya sehingga menutupi
pembukaan jalan lahir.
·
Ibu merokok atau menggunakan
kokain.
·
Ibu dengan usia lebih tua. Risiko plasenta previa berkembang 3 kali
lebih besar pada perempuan di atas usia 35 tahun dibandingkan pada wanita di
bawah usia 20 tahun. Diduga risiko plasenta previa meningkat dengan
bertambahnya usia ibu, terutama setelah usia 35 tahun. Hal ini karena sklerosis
pembuluh darah arteli kecil dan arteriole miometrium menyebabkan aliran darah
ke endometrium tidak merata sehingga plasenta tumbuh lebih lebar dengan luas
permukaan yang lebih besar, untuk mendapatkan aliran darah yang adekuat.
3. Tanda dan gejala plasenta previa
·
Pendarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan
pertama dari plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur
atau bekerja biasa, perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak
akan berakibat fatal. Perdarahan berikutnya hampir selalu banyak dari pada
sebelumnya, apalagi kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam.
·
Sumber perdarahan ialah sinus uterus yang robek karena terlepasnya
plasenta dari dinding uterus, atau karena robekan sinus marginalis dari
plasenta. Perdarahan tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot
segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan, tidak
sebagaimana serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada kala III dengan
plasenta yang letaknya normal. Makin rendah letak plasenta, makin dini
perdarahan terjadi. Oleh karena itu, perdarahan pada plasenta previa totalis
akan terjadi lebih dini dari pada plasenta letak rendah, yang mungkin baru
berdarah setelah persalinan mulai.
·
Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan SBR.
·
Bentuk perdarahan: Sedikit tanpa menimbulkan gejala klinis atau banyak
disertai gejala klinik ibu dan janin.
·
Gejala klinik ibu:
Tergantung keadaan umum dan jumlah darah yang hilang.
Terjadi gejala kardiovaskuler dalam bentuk:
Nadi meningkat dan tekanan darah menurun
Anemia
Perdarahan banyak menimbulkan syok sampai kematian
·
Gejala klinik janin
·
Bagian terendah belum masuk PAP atau terdapat kelainan letak. Apabila
janin dalam presentasi kepala, kepalanya akan di dapatkan belum masuk ke dalam
pintu-atas panggul yang mungkin karena plasenta previa sentralis; mengolak ke
samping karena plasenta previa posterior; atau bagian terbawah janin sukar
ditentukan karena plasenta previa anterior. Tidak jarang terjadi kelainan
letak, seperti letak lintang atau letak sungsang.
·
Perdarahan mengganggu sirkulasi retroplasenter, menimbulkan asfiksia
intra uterin sampai kematian janin • HB sekitar 5 gr/dl dapat menimbulkan
kematian janin dan ibunya.
H. SOLUSIO PLASENTA
1.
Pengertian solusio plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat
implantasinya yang normal pada uterus sebelum janin di lahirkan.Definisi ini
berlaku pada kehamilandengan masa gestasi diatas 22 minggu atau berat janin
diatas 500gr.
2.
Etiologi solusio plasenta
Penyebab primer belum diketahui pasti, namun ada beberapa
faktor yang menjadi predisposisi:
a.
Faktor Paritas Ibu
Lebih banyak dijumpai pada multipara dari pada
primipara.Beberapa penelitian menerangkan bahwa makin tinggi paritas ibu makin
kurang baik keadaan endometrium.
b.
Lebih sering terjadi pada wanita usia > 35 tahun
c.
Lebih seing terjadi bila terdapat hipertensi
d.
Faktor trauma
·
Dekompresi uterus pada hidroamnion dan gemeli.
·
Tarikan pada tali pusat yang pendek akibat pergerakan janin yang banyak/bebas,
versi luar atau tindakan pertolongan persalinan
·
Trauma langsung, seperti jatuh, kena tendang, dan lain-lain.
e.
Penurunan cepat ukuran dan tekanan uterus setelah ketuban pecah pada
polihidramnion.
f.
Malnutrisi
g.
Tali pusat pendek
h.
Faktor kebiasaan merokok Ibu yang perokok plasenta menjadi tipis,
diameter lebih luas dan beberapa abnormalitas pada mikrosirkulasinya
i.
Riwayat solusio plasenta sebelumnya Hal yang sangat penting dan
menentukan prognosis ibu dengan riwayat solusio plasenta adalah bahwa resiko berulangnya
kejadian ini pada kehamilan berikutnya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan
ibu hamil yang tidak memiliki riwayat solusio plasenta.
3.
Tanda dan gejala solusio plasenta
a.
Solusio plasenta ringan
·
Perdarahan < 100 –
200 cc
·
Uterus tidak tegang
·
Tidak ada renjatan /
syok
·
Janin hidup ( bunyi
jantung janin teratur )
·
Uji beku darah baik,
kadar plasma fibrinogen > 250 mg%
·
Pelepasan plasenta <
1/6 bagian permukaan
b.
Solusio plasenta sedang
·
Perdarahan > 200 cc disertai dengan rasa sakit
·
Uterus tegang
·
Gawat janin/ gerakjanin berkurang/ janin telah mati
·
Palpasi bagian janin sulit diraba
·
Auskultasi jantung janin dapat terjadi asfiksiaringan dan sedang
·
Ada tanda presyok/ pra- renjatan
·
Uji beku darahmasih ada pembekuan, kadar fibrinogen darah 120 – 150 mg%
·
Pelepasan plasenta 1/ 4 – 2/ 3 bagian permukaan.
·
Pada pemeriksaan dalam, ketuban menonjol
c.
Solusio plasenta berat
·
Perdarahan banyak
sekali pervaginan yang disertai rasanyeri / perdarahan hebat
terselubung/tersembunyi.
·
Uterus sangat tegang
dan berkontraksi tetanik, sakit pada perabaan.
·
Terdapat
tandarenjatan/syok dengan TD menurun, nadi dan pernafasan meningkat.
·
Biasanya janin telah
meninggal dalam uterus.
·
Uji beku darah tidak
ada pembekuan,kadar fibrinogen < 100 mg %.
·
Pelepasan plasenta 2/ 3
bagian permukaan atau telah terlepas seluruhnya.
4.
Komplikasi solusio plasenta
·
Syok pendarahan
·
Gagal ginjal
·
Kelainan pembekuan darah
Komentar
Posting Komentar