DETEKSI DINI HIPERTENSI/ PREEKLAMSIA/ EKLAMSIA.


1.      Pengertian Hipertensi, Preeklamsi Dan Eklamsia

Hipertensi adalah masalah medis yang umum ditemui selama kehamilan. Inilah yang perlu diketahui ibu hamil agar lebih meningkatkan kesadaran merawat diri. Penyakit Hipertensi Dalam Kehamilan (HDK) adalah salah satu penyebab kesakitan dan kematian ibu mau  pun janin. Kira-kira 15-25% wanita yang didiagnosis awal dengan hipertensi dalam kehamilan akan mengalami Pre-Eklamsia Berat (PEB). Sulit memprediksi yang mana akan mengalami PEB.Dr. Meutia Ria Octaviana, Sp.OG, M.Kes – Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan dari Primaya Hospital Tangerang menjelaskan bahwa hipertensi dalam kehamilan adalah penyakit yang harus diwaspadai. Dengan penanganan yang baik, hipertensi tidak akan berkembang atau membahayakan, dan dapat hilang setelah kelahiran. Namun jika dibiarkan, hipertensi saat hamil bisa membahayakan.Hipertensi pada kehamilan apabila tekanan darahnya ≥140/90 mmHg. Dibagi menjadi ringan-sedang (140 – 159 / 90 – 109 mmHg) dan berat (≥160/110 mmHg) (Malha et al., 2018).

Hipertensi pada kehamilan dapat digolongkan menjadi:

a.       pre-eklampsia/ eclampsia

b.      hipertensi kronis pada kehamilan

c.       hipertensi kronis disertai preeklampsia

d.      hipertensi gestational

Preeklamsia adalah  kondisi peningkatan tekanan darah disertai dengan adanya protein dalam urine. Kondisi ini terjadi setelah usia kehamilan lebih dari 20 minggu.Preeklamsia harus diberikan penanganan untuk mencegah komplikasi dan mencegahnya berkembang menjadi eklamsia yang dapat mengancam nyawa ibu hamil dan janin. Salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya preeklampsia adalah ibu hamil berusia lebih dari 40 tahun atau di bawah 20 tahun.

 

Eklampsia adalah  penyakit akut dengan kejang dan coma pada wanita hamil dan dalam masa nifas disertai dengan hypertensi oedema dan proteinuria. (obstetricpatologi,unpad,1984).Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil, dalam persalinan atau masa nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang (bukan timbul akibat kelianan neurologik) dan atau koma dimana sebeblumnya sudah menunjukkan gejala – gejala pre eklampsia.Eklampsia merupakan kasus akut pada penderita preeclampsia, yang disertai dengan kejang menyeluruh dan koma.Eklampsia lebih sering terjadi pada primagravidae dari pada multiparae. Eklampsia juga sering terjadi pada : kehamilan kembar, hydramnion, mola hidatidosa. Eklampsia post partum umumnya hanya terjadi dalam waktu 24 jam pertama setelah persalinan.

 

2.      Etiologi Hipertensi, Preeklamsia Dan Eklamsia

Etiologi hipertensi dalam kehamilan beragam, tergantung dari subtipe hipertensi. Hipertensi kronis yang sekunder dapat disebabkan oleh beberapa etiologi yakni penyakit parenkimal ginjal (mis. ginjal polikistik), penyakit vaskular ginjal (mis.stenosi arteri ginjal, displasia fibromuskuler), gangguan endokrin (mis.kelebihan adrenokortikosteroid atau mineralokortikoid, feokromositoma, hipertiroidisme atau hipotiroidisme, kelebihan hormon pertumbuhan, hiperparatiroidisme), koarktasio aorta, atau penggunaan kontrasepsi oral.  Faktor risiko dari hipertensi dalam kehamilan di antaranya:

·         Riwayat hipertensi pada keluarga

·         Riwayat hipertensi kronis sebelumnya

·         Diabetes

·         Nuliparitas

·         Obesitas

 

Etiologi Preeklamsia

Penyebab preeklamsia masih belum diketahui secara pasti. Meski demikian, ada dugaan bahwa kondisi ini disebabkan oleh kelainan perkembangan dan fungsi plasenta, yaitu organ yang berfungsi menyalurkan darah dan nutrisi untuk janin.

Kelainan tersebut menyebabkan pembuluh darah menyempit dan timbulnya reaksi yang berbeda dari tubuh ibu hamil terhadap perubahan hormon. Akibatnya, timbul gangguan pada ibu hamil dan janin.

Meskipun penyebabnya belum diketahui, sejumlah faktor berikut ini dinilai dapat memicu gangguan pada plasenta:

·         Pernah atau sedang menderita diabetes, hipertensi, penyakit ginjalpenyakit autoimun, dan gangguan darah

·         Pernah mengalami preeklamsia pada kehamilan sebelumnya

·         Baru pertama kali hamil

·         Hamil lagi setelah jeda 10 tahun dengan kehamilan sebelumnya

·         Hamil di usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun

·         Mengandung lebih lebih dari satu janin

·         Mengalami obesitas saat hamil, yang ditandai dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥30 kg/m2

·         Kehamilan yang sedang dijalani merupakan hasil metode bayi tabung (in vitro fertilization)

·         Ada riwayat preeklamsia dalam keluarga

Diagnosis Preeklamsia

Dokter akan menanyakan keluhan dan gejala yang dialami ibu hamil, serta riwayat kesehatan ibu hamil dan keluarganya. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh, termasuk tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan, suhu tubuh, pembengkakan pada tungkai, kaki, dan tangan, serta kondisi kandungan. Jika tekanan darah ibu hamil lebih dari 140/90 mmHg pada 2 kali pemeriksaan dengan jeda waktu 4 jam, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang berikut untuk memastikan diagnosis preeklamsia:

·         Tes urine, untuk mengetahui kadar protein dalam urine

·         Tes darah, untuk memeriksa fungsi hati, ginjal, dan jumlah trombosit darah

·         Ultrasonografi (USG), untuk melihat pertumbuhan janin

·         USG Doppler, untuk mengukur efisiensi aliran darah ke plasenta

·         Nonstress test (NST) dengan cardiotocography atau CTG, untuk mengukur detak jantung janin saat bergerak di dalam kandungan

 

Penyebab Eklamsia

Hingga saat ini, penyebab terjadinya preeklamsia dan eklamsia belum diketahui dengan pasti. Namun, diduga kondisi ini diakibatkan oleh adanya kelainan pada fungsi dan formasi plasenta. Faktor-faktor lain yang diduga dapat meningkatkan risiko preeklamsia dan eklamsia pada ibu hamil adalah:

·         Memiliki riwayat menderita preeklamsia pada kehamilan sebelumnya

·         Sedang menjalani kehamilan pertama atau memiliki jarak antar kehamilan yang terlalu dekat (kurang dari 2 tahun)

·         Memiliki riwayat hipertensi kronis atau hipertensi dalam kehamilan

·         Hamil pada usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun

·         Mengalami kondisi dan penyakit tertentu, seperti diabetes, penyakit ginjal, anemia sel sabitobesitas, serta penyakit autoimun, seperti lupus dan sindrom antifosfolipid (APS)

·         Kondisi tertentu dalam kehamilan, seperti mengandung lebih dari satu janin atau hamil dengan program bayi tabung (IVF)

Diagnosis Eklamsia

Dalam mendiagnosis eklamsia, dokter akan menanyakan kepada keluarga yang membawa ibu hamil ke rumah sakit tentang kejang yang dialami, termasuk riwayat pemeriksaan kehamilan, penyakit, dan preeklampsia sebelumnya.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh untuk memastikan apakah kondisi ibu hamil dan janin dalam keadaan stabil.

Untuk memastikan eklampsia dan kerusakan organ yang sudah terjadi, akan dilakukan pemeriksaan penunjang berikut:

·         Tes darah, untuk mengetahui jumlah sel darah secara keseluruhan

·         Tes urin, untuk memeriksa keberadaan dan kadar protein di urin

·         Tes fungsi hati, untuk mendeteksi kerusakan fungsi hati

·         Tes fungsi ginjal, termasuk ureum dan kreatin, untuk mengetahui kadar kreatin di ginjal dan mendeteksi adanya kerusakan ginjal

·         Ultrasonografi (USG), untuk memastikan kondisi janin dalam keadaan sehat

 

a.      Tanda Dan Gejala Hipertensi, Preeklamsia Dan Eklamsia

Umumnya, hipertensi biasa tidak selalu menunjukkan tanda-tanda dan gejala tertentu.

Pada kasus hipertensi gestasional, tanda-tanda dan gejala pada setiap penderita mungkin akan berbeda, tetapi gejala akan muncul saat kehamilan sedang berlangsung.

Tanda-tanda dan gejala yang utama tentunya adalah:

·         Tekanan darah tinggi pada saat usia kandungan di atas 20 minggu

·         Tidak ada protein di dalam urine (proteinuria)

·         Sakit kepala

·         Pusing

·         Edema (pembengkakan)

·         Berat badan naik secara tidak wajar

·         Penglihatan kabur atau buram

·         Mual dan muntah berlebihan

·         Sakit di bagian kanan atas perut

·         Buang air kecil semakin sedikit

 

Gejala Preeklamsia dan Eklamsia

Gejala Preeklampsia biasanya tanda-tanda Preeklampsia timbul dalam urutan : pertambahan berat badan yang berlebihan, diikuti edema, hipertensi, dan akhirnya proteinuria.

1) Preeklampsia ringan :

a) Tekanan darah 140/90 mmHg, atau kenaikan diastolic 15 mmHg atau lebih, atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih setelah 20 minggu kehamilan dengan riwayat tekanan darah normal.

b) Proteinuria kuantitatif ≥ 0,3 gr perliter atau kualitatif 1+ atau 2+ pada urine kateter atau midstearm

2) Preeklampsia berat :

a) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih

b) Proteinuria 5 gr atau lebih perliter dalam 24 jam atau kualitatif 3+ atau 4+.

c) Oligouri, yaitu jumlah urine kurang dari 500 cc per 24 jam.

d) Adanya gangguan serebral, gangguan penglihatan, dan rasa nyeri di epigastrium.

e) Terdapat edema paru dan sianosis

f) Trombositopenig (gangguan fungsi hati)

g) Pertumbuhan janin terhambat.

Gejala eklampsia

Pada umumnya kejanga didahului oleh makin memburuknya Preeklampsia dan terjadinya gejala-gejala nyeri kepala di daerah frontal, gangguan penglihatan, mual keras, nyeri di epigastrium dan hiperrefleksia. Bila keadaan ini tidak dikenal dan tidak segera diobati, akan timbul kejangan terutama pada persalinan bahaya ini besar.

 

b.      Komplikasi Hipertensi, Preeklamsi Dan Eklamsia

Komplikasi yang terberat adalah kematian ibu dan janin.Komplikasi dibawahini biasanya terjadi pada Preeklampsia berat dan eklampsia.

a. Solusio plasenta. Komplikasi ini terjadi pada ibu yang menderita hipertensiakut dan lebih sering terjadi pada Preeklampsia.

b. Hipofibrinogenemia. Pada Preeklampsia berat

c. Hemolisis. Penderita dengan Preeklampsia berat kadang-kadang menunjukkangejala klinik hemolisis yang di kenal dengan ikterus.Belum di ketahui dengan pasti apakah ini merupakan kerusakan sel-sel hati atau destruksi sel darahmerah. Nekrosis periportal hati sering di temukan pada autopsi penderita eklampsia dapat menerangkan ikterus tersebut.

d. Perdarahan otak. Komplikasi ini merupakan penyebab utama kematianmaternal penderita eklampsia.

e. Kelainan mata, Kehilanganpenglihatan untuk sementara, yang berlansungsampaiseminggu.

f. Edema paru-paru.

g. Nekrosis hati. Nekrosis periportal hati pada Preeklampsi – eklampsia merupakan akibat vasopasmus arteriol umum.

h. Sindrom HELLP yaitu haemolysis, elevated liver enzymes, dan low platelet.

i. Kelainan ginjal

j. Komplikasi lain. Lidah tergigit, trauma dan fraktura karena jatuh akibatkejang-kejang pneumonia aspirasi.

k. Prematuritas, dismaturitas dan kematian janin intra – uterin.

 

3.      Pencegahan Hipertensi, Preeklamsia Dan Eklamsia

 Meski pada beberapa kondisi hipertensi pada ibu hamil sulit dicegah, ada beberapa upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalisir risiko tersebut. Berikut di antaranya:

1.Ketahui Tingkat Tekanan Darah sebelum Hamil

Penting untuk mengetahui berapa tingkat tekanan darah yang dimiliki, sejak sebelum hamil. Jadi, saat sedang program hamil, sebaiknya rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, atau sekadar cek tekanan darah. Dengan begitu, kamu bisa tahu kapan tekanan darah sudah mulai tinggi dan harus berhati-hati.

2.Kurangi Asupan Garam

Asupan garam atau natrium yang tinggi dapat meningkatkan tekanan darah. Jika kamu biasanya menaburkan garam di setiap hidangan, sebaiknya segera hentikan kebiasaan tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan batas aman konsumsi garam per harinya 1 sendok teh atau 2.400 miligram.

Selain pada masakan, perhatikan juga kandungan garam pada setiap makanan kemasan dan olahan. Terutama makanan olahan, yang biasanya sudah mengandung garam atau natrium dalam jumlah yang besar.

3.Olahraga Rutin

Sejak program hamil, atau jauh sebelumnya, penting untuk menjadikan olahraga sebagai rutinitas. Jika sudah hamil, tanyakan kepada dokter tentang bagaimana memulai program olahraga teratur, termasuk apa saja jenis olahraga yang boleh dilakukan. 

Wanita yang tidak banyak bergerak cenderung menambah berat badan, yang dapat meningkatkan risiko hipertensi selama kehamilan, juga sebelum dan sesudahnya. Jadi, cobalah untuk mulai menerapkan gaya hidup sehat dan aktif sebelum memulai kehamilan.

4.Perhatikan Obat-obatan yang Dikonsumsi

Pastikan kamu tidak minum obat yang dapat meningkatkan tekanan darah. Sebaiknya selalu tanyakan kepada dokter untuk mengetahui obat apa yang aman. Pikirkan dua kali untuk menggunakan obat apa pun kecuali dokter menyarankan. Agar lebih mudah, kamu juga bisa download aplikasi Halodoc untuk berkonsultasi pada dokter tentang penggunaan obat. 

5.Jalani Pemeriksaan Prenatal Rutin 

Jika tekanan darah mulai meningkat selama kehamilan, ibu hamil perlu mengetahuinya lebih awal. Pastikan untuk menepati semua jadwal kontrol kehamilan dan pertimbangkan untuk membeli monitor tekanan darah rumah untuk memeriksa tekanan darah lebih sering di rumah.

6.Hindari Rokok dan Alkohol

Tembakau dan alkohol tidak aman untuk janin dan dapat meningkatkan risiko hipertensi pada ibu hamil. Jadi, pastikan untuk menghindari dua hal ini selama kehamilan, agar terhindar dari risiko gangguan kesehatan serius, ya. 

 

Jika kamu sudah memiliki tekanan darah tinggi, bicarakan dengan dokter tentang penggunaan obat sebelum dan selama kehamilan. Sangat penting untuk mengendalikan tekanan darah dan stabil sebelum hamil, karena sembilan bulan kehamilan bukanlah waktu terbaik untuk mencoba obat baru atau tambahan. 

 

a. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (Preeklampsia ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.

b. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya Preeklampsia kalau ada faktor-faktor predeposisi.

c. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet bergunadalam pencegahan. Istirahat tidakselalu berarti berbaring ditempat tidur,namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein, dan rendah lemak, karbohidrat,garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan.

d. Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tandaPreeklampsia dan mengobatinya segera apabila di temukan.

e. Mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah dirawat tanda – tanda Preeklampsia tidak juga dapat di hilangkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DETEKSI DINI POST PARTUM BLUES, PSIKOSA POST PARTUM, DAN DEPRESI POSTPARTUM