DETEKSI DINI PADA IBU HAMIL YANG TERKENA RESIKO PMS/HIV/AIDS DAN HEPATITIS B DAN C.

PMS

1.         Pengertian

    Penyakit Menular Seksual (PMS) adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit menular seksual akan lebih beresiko bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal.


2.   Apa bahayanya PMS?

 

    PMS menyebabkan infeksi alat reproduksi yang harus dianggap serius. Bila tidak diobati secara tepat, infeksi dapat menjalar dan menyebabkan penderitaan, sakit berkepanjangan, kemandulan dan kematian. Buat kamu remaja perempuan perlu disadari bahwa resiko untuk terkena PMS lebih besar daripada laki-laki sebab alat reproduksimu lebih rentan. Dan seringkali berakibat lebih parah karena gejala awal tidak segera dikenali, sedangkan penyakit melanjut ke tahap lebih parah.


3.      Apa saja tanda dan gejala PMS?

Pada perempuan gejala-gejala PMS antara lain:

1.  Rasa sakit atau nyeri pada saat kencing atau berhubungan seksual.

2.  Rasa nyeri pada perut bagian bawah.

3.  Pengeluaran lendir pada vagina/alat kelamin.

4.  Keputihan berwarna putih susu, bergumpal dan disertai rasa gatal dan kemerahan pada alat kelamin atau sekitarnya.

5.  Keputihan yang berbusa, kehijauan, berbau busuk, dan gatal.

6.  Timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seks.

7.  Bintil-bintil berisi cairan, lecet atau borok pada alat kelamin. 


             4. Bagaimana kamu bisa terhindar dari PMS ?

 

1.  Bagi kamu yang belum menikah, cara yang paling ampuh adalah tidak melakukan hubungan seksual.

    2.  Saling setia bagi pasangan yang sudah menikah.

    3.  Hindari hubungan seks yang tidak aman atau beresiko.

    4.  Selalu menggunakan kondom untuk mencegah penularan PMS.

    5.  Selalu menjaga kebersihan alat kelamin.


           5. Apa saja jenis PMS ?

Ada banyak macam penyakit yang bisa digolongkan sebagai PMS. Di Indonesia yang banyak ditemukan saat ini adalah:


Ø Gonore (GO)

 

Kuman penyebabnya adalah Neisseria gonorrhoeae. Ada masa tenggang selama 2 –10 hari setelah kuman masuk ke dalam tubuh melalui hubungan seks.Tanda-tanda penyakitnya adalah nyeri, merah, bengkak dan bernanah. Gejala pada laki-laki adalah rasa sakit pada saat kencing, keluarnya nanah kental kuning kehijauan, ujung penis tampak merah.

Kuman penyebabnya disebut Treponema pallidum. Masa tanpa gejala berlangsung 3-4 minggu, kadang-kadang sampai 13 minggu. Kemudian timbul benjolan di sekitar alat kelamin. Kadang-kadang disertai pusing-pusing dan nyeri tulang seperti flu, yang akan hilang sendiri tanpa diobati. Ada bercak kemerahan pada tubuh sekitar 6-12 minggu setelah hubungan seks. Gejala ini akan hilang dengan sendirinya dan seringkali penderita tidak memperhatikan hal ini.

Selama 2-3 tahun pertama penyakit ini tidak menunjukkan gejala apa-apa, atau disebut masa laten. Setelah 5-10 tahun penyakit sifilis akan menyerang susunan syaraf otak, pembuluh darah dan jantung. Pada perempuan hamil sifilis dapat ditularkan kepada bayi yang dikandungnya dan bisa lahir dengan kerusakan kulit, hati, limpa dan keterbelakangan mental.

Ø Herpes genital

 

Penyakit yang disebabkan oleh virus Herpes simplex dengan masa tenggang 4 – 7 hari sesudah virus masuk ke dalam tubuh melalui hubungan seks. Gejala dan tanda-tandanya adalah: Bintil-bintil berair (berkelompok seperti anggur) yang sangat nyeri pada sekitar alat kelamin Kemudian pecah dan meninggalkan luka yang kering mengerak, lalu hilang sendiri.

Gejala kambuh lagi seperti di atas namun tidak senyeri tahap awal bila ada faktor pencetus (stres, haid, minuman/makanan beralkohol) dan biasanya menetap hilang timbul seumur hidup Pada perempuan, seringkali menjadi kanker mulut rahim beberapa tahun kemudian. Penyakit ini belum ada obat yang benar-benar mujarab, tetapi pengobatan anti virus bisa mengurangi rasa sakit dan lamanya episode penyakit.


Ø Klamidia

Penyakit ini disebabkan oleh Chlamydia trachomatis. Masa tanpa gejala ber-langsung 7

– 21 hari. Gejalanya adalah timbul peradangan pada alat reproduksi laki-laki dan perempuan.

Pada perempuan, gejalanya bisa berupa:

    1.  Keluarnya cairan dari alat kelamin atau ‘keputihan encer’ berwarna putih kekuningan

Ø  Trikomoniasis vaginalis

 

Trikomoniasis adalah PMS yang disebabkan oleh parasit Trikomonas vaginalis. Gejala dan tanda-tandanya adalah: cairan vagina encer, berwarna kuning kehijauan, berbusa dan berbau busuk.vulva agak bengkak, kemerahan, gatal dan terasa tidak nyaman. nyeri saat berhubungan seksual atau saat kencing.

Ø  Kandidiasis vagina

 

Kandidiasis vagina merupakan keputihan yang disebabkan oleh jamur Candida albicans. Pada keadaan normal, jamur ini terdapat di kulit maupun di dalam liang kemaluan perempuan. Tetapi pada keadaan tertentu, jamur ini meluas sedemikian rupa sehingga menimbulkan keputihan.

Gejalanya berupa keputihan berwarna putih seperti susu, bergumpal, disertai rasa gatal panas dan kemerahan pada kelamin dan di sekitarnya. Penyakit ini tidak selalu  tergolong PMS, tetapi pasangan seksual dari perempuan yang terinfeksi jamur ini dapat mengeluh gatal dengan gejala bintik-bintik kemerahan di kulit kelamin.

Ø  Kutil kelamin

 

Penyebabnya adalah human papilloma virus (HPV) dengan gejala yang khas yaitu terdapat satu atau beberapa kutil di sekitar kemaluan. Pada perempuan, dapat mengenai kulit di daerah kelamin sampai dubur, selaput lendir bagian dalam liang kemaluan sampai leher rahim. Bila perempuan hamil, kutil dapat tumbuh sampai besar sekali.


6. Pengobatan


  PMS dapat diobati. Satu-satunya cara adalah berobat ke dokter atau tenaga kesehatan. Jika kita terkena PMS, pasangan kita juga harus diperiksa dan diobati. Jangan mengobati diri sendiri. Patuhi cara pengobatan sesuai petunjuk yang diberikan oleh dokter atau tenaga kesehatan untuk memastikan kesembuhan. Hindari hubungan seksual.

selama masih ada keluhan/gejala. Bila kamu hamil, beritahukan dokter atau tenaga kesehatan.

Mitos-mitos seputar PMS

 

Kamu perlu mengetahui dan menyadari bahwa PMS tidak dapat dicegah hanya dengan:

1.  memilih pasangan yang kelihatan bersih penampilannya.

2.  mencuci alat kelamin setelah berhubungan seks.

3.  minum jamu-jamuan.

4.  Minum antibiotik sebelum dan sesudah berhubungan seks.

 

HIV/AIDS

1. Pengertian

 

    AIDS adalah singkatan dari Aquired Immune Deficiency Syndrome. Penyakit ini adalah kumpulan gejala akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh yang terjadi karena seseorang terinfeksi virus HIV. HIV sendiri adalah singkatan dari Human Immuno Virus. Orang yang terinfeksi oleh virus ini tidak dapat mengatasi serbuan infeksi penyakit lain karena sistem kekebalan tubuhnya menurun terus secara drastis.

Apakah HIV / AIDS termasuk PMS?


    Ya, karena salah satu cara penularannya adalah hubungan seksual dengan orang yang telah terinfeksi virus HIV. Cara penularan ini merupakan yang tersering di Indonesia dewasa ini.

Bagaimana Penularan HIV


    HIV terdapat pada seluruh cairan tubuh manusia, tetapi yang bisa menularkan hanya yang terdapat pada sperma (air mani), darah dan cairan vagina. Dengan demikian cara- cara penularannya adalah sebagai berikut :

1.    Berganti-ganti pasangan seksual, atau berhubungan dengan orang yang positif terinfeksi virus HIV.

2.  Pemakai jarum suntik bekas orang yang terinfeksi virus HIV.

3.  Menerima tranfusi darah yang tercemar HIV.

4.    Ibu hamil yang terinfeksi virus HIV akan menularkannya ke bayi dalam kandungannya. 

         2.  Gejala HIV/AIDS

    Sesudah terjadi infeksi virus HIV, awalnya tidak memperlihatkan gejala-gejala khusus. Baru beberapa minggu sesudah itu orang yang terinfeksi sering kali menderita penyakit ringan sehari-hari seperti flu atau diare. Penderita sering kali merasa sehat dan dari luar memang tampak sehat. Sering kali 3-4 tahun penderita tidak memperlihatkan gejala yang khas. Sesudahnya, tahun ke 5 atau 6 mulai timbul diare berulang, penurunan berat badan secara mendadak, sering sariawan di mulut, dan terjadi pembengkakan di daerah kelenjar getah bening.

Bagaimana kamu bisa terhindar dari HIV / AIDS ? Caranya adalah sebagai berikut:

1.  Tidak berganti-ganti pasangan tetap dan menghindari hubungan seksual di luar nikah.

 

2.  Menggunakan kondom, terutama kelompok resiko tinggi seperti pekerja seks komersial.

3.  Sedapat mungkin menghindari transfusi darah yang tak jelas asalnya.

4.  Menggunakan alat-alat medis dan non-medis yang terjamin steril.

 

Hepatitis B dan C

1.         Pengertian

    Hepatitis adalah peradangan hati serius yang bisa dengan mudah ditularkan ke orang lain. Penyakit ini diakibatkan oleh virus hepatitis. Ada beberapa jenis virus hepatitis, termasuk hepatitis A, hepatitis B, dan hepatitis C. Jika tidak tertangani dengan baik, hepatitis saat hamil bisa menyebabkan penyakit parah, kerusakan hati, bahkan kematian. Ibu juga bisa menyebarkan virus ke bayinya.

Hepatitis B dan C adalah jenis hepatitis yang paling umum terjadi selama kehamilan. Hepatitis B adalah bentuk hepatitis yang paling sering ditularkan dari ibu ke bayi di seluruh dunia, dengan peningkatan risiko yang lebih besar jika Anda tinggal di negara berkembang.


    Sekitar 90% wanita hamil dengan infeksi hepatitis B akut akan “mewarisi” virus tersebut ke bayi mereka. Sekitar 10-20% wanita dengan infeksi hepatitis B kronis akan menularkannya. Sekitar 4% ibu hamil yang terinfeksi virus hepatitis C akan menyebarkannya ke bayi mereka. Risiko penyebaran penyakit dari ibu ke anak juga terkait dengan seberapa banyak jumlah virus (viral load) dalam tubuh ibu dan apakah dia juga terinfeksi oleh HIV.

             2. Bagaimana ibu bisa terkena hepatitis saat hamil?

    Hepatitis B dan C menyebar melalui darah dan cairan tubuh yang terinfeksi misal cairan vagina atau air mani. Itu berarti Anda bisa mendapatkannya dari hubungan seks tanpa kondom dengan orang yang terinfeksi, atau ditusuk dengan jarum bekas pakai yang digunakan oleh seseorang yang terinfeksi — baik jarum suntik narkoba, jarum t ato, maupun jarum suntik medis yang tidak steril. Akan tetapi risiko terkena hepatitis C melalui hubungan seks tergolong rendah jika Anda hanya memiliki satu pasangan untuk waktu yang lama. Hepatitis C paling sering terjadi pada orang yang lahir antara tahun 1945 dan 1965. Untuk alasan ini, semua orang di kelompok usia ini harus diuji untuk infeksi hepatitis C.

3.   Gejala

    Gejala hepatitis termasuk mual dan muntah, selalu kecapekan, kehilangan nafsu makan, demam, sakit perut (terutama di sisi kanan atas, lokasi hati berada), sakit pada otot dan persendian, serta jaundice alias penyakit kuning — kulit dan bagian putih mata yang menguning. Masalahnya adalah, gejala bisa mungkin tidak muncul selama berbulan- bulan atau bertahun-tahun setelah infeksi, atau Anda mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali.

 

4.    Dampak

    Infeksi hepatitis B bisa sembuh total dalam beberapa minggu tanpa pengobatan. Ibu hamil yang sudah terbebas dari virus hepatitis B akan menjadi kebal terhadapnya. Mereka tidak bisa terkena virus lagi. Tapi tidak seperti infeksi virus hepatitis B, kebanyakan orang dewasa yang terinfeksi virus hepatitis C (sekitar 75% sampai 85%) menjadi seorang carrier, alias “tuan rumah” dari virus. Kebanyakan carrier hepatitis mengembangkan penyakit hati jangka panjang. Segelintir lainnya akan mengembangkan sirosis hati dan masalah hati serius yang mengancam jiwa lainnya. Kehamilan itu sendiri tidak akan mempercepat proses penyakit atau memperburuknya, walaupun jika hati sudah terbebani dan terluka dengan sirosis, ini dapat meningkatkan risiko ibu hamil mengalami perlemakan hati. Perlemakan hati selama kehamilan yang akut mungkin terkait kekurangan enzim yang biasanya diproduksi oleh hati yang memungkinkan wanita hamil untuk memetabolisme asam lemak. Kondisi ini dapat dengan cepat menjadi parah, dan juga bisa memengaruhi anak yang belum lahir (yang mungkin juga lahir dengan kekurangan enzim ini). Komplikasi lain yang dapat terjadi pada ibu dengan hepatitis saat hamil adalah batu empedu, yang sering menimbulkan penyakit kuning selama kehamilan. Ini terjadi pada 6% dari semua kehamilan, sebagian karena perubahan garam empedu selama kehamilan. Selain itu, kantung empedu mengosongkan diri lebih lambat selama kehamilan, yang berarti cairan empedu menggenang lebih lama di hati dan risiko batu empedu pun naik. Jika Anda menderita hepatitis B saat hamil, diperkirakan Anda mungkin lebih rentan mengalami ketuban pecah dini, diabetes gestasional, dan/atau mengalami perdarahan berat pada akhir kehamilan. Ada juga peningkatan risiko komplikasi persalinan seperti plasenta abrupsio dan kematian bayi saat lahir.

            Apa pengaruh hepatitis saat hamil pada bayi — baik saat masih dalam                         kandungan maupun setelah lahir?

    Bayi dalam kandungan pada umumnya tidak terpengaruh oleh virus hepatitis milik ibunya selama kehamilan. Namun, mungkin ada beberapa peningkatan risiko tertentu saat persalinan, seperti bayi lahir prematur, bayi lahir dengan berat rendah (BBLR), atau kelainan anatomi dan fungsi tubuh bayi (terutama pada infeksi hepatitis B kronis). Risiko lainnya adalah bayi Anda bisa terinfeksi saat lahir. Bayi mungkin terinfeksi hepatitis B saat lahir jika ibu positif memiliki virusnya. Biasanya, penyakit ini diteruskan ke anak yang terkena paparan darah dan cairan vagina ibu selama proses persalinan. Infeksi virus hepatitis B bisa sangat parah pada bayi. Hal itu bisa mengancam nyawa mereka. Apabila anak terinfeksi virus hepatitis B semasa kecil, sebagian besar kasusnya akan berlanjut menjadi kronis. Hepatitis kronis inilah yang bisa berakibat buruk pada kesehatan anak di kemudian hari, yaitu berupa kerusakan hati (sirosis) dan kadang kanker hati (terutama jika disertai infeksi virus hepatitis C).

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DETEKSI DINI POST PARTUM BLUES, PSIKOSA POST PARTUM, DAN DEPRESI POSTPARTUM