DETEKSI DINI PEMBESARAN UTERUS YANG TIDAK SESUAI UMUR KEHAMILAN OLIGOHIDRAMIN / POLIHIDRAMNION / KEHAMILAN MOLA
Oligohidramnion
a. Pengertian
Oligohidramnion adalah air ketuban kurang dari 500 cc. Oligohidramnion kurang baik untuk pertumbuhan janin karena pertumbuhan dapat terganggu oleh perlekatan antara janin dan amnion atau karena janin mengalami tekanan dinding rahim (Sastrawinata, dkk, 2004:40). Jika produksinya semakin berkurang, disebabkan beberapa hal diantaranya: insufisiensi plasenta, kehamilan post term, gangguan organ perkemihan- ginjal, janin terlalau banyak minum sehingga dapat menimbulkan makin berkurangnya jumlah air ketuban intrauteri “oligohidramnion” dengan kriteria :
1) Jumlah kurang dari 500 cc
2) Kental
3) Bercampur mekonium
b. Etiologi
Penyebab pasti terjadinya oligohidramnion masih belum diketahui. Beberapa keadaan berhubungan dengan oligohidramnion hampir selalu berhubungan dengan obsrtuksi saluran traktus urinarius janin atau renal agenesis (Khumaira, 2012:188).
Oligohidramnion harus dicurigai jika tinggi fundus uteri lebih rendah secara bermakna dibandingan yang diharapkan pada usia gestasi tersebut. Penyebab oligohidramnion adalah absorpsi atau kehilangan cairan yang meningkat ketuban pecah dini menyebabkan 50 % kasus oligohidramnion, penurunan produksi cairan amnion yakni kelainan ginjal kongenital akan menurunkan keluaran ginjal janin obstruksi pintu keluar kandung kemih atau uretra akan menurunkan keluaran urin dengan cara sama (Rukiyah dan Yulianti, 2010:232). Sebab oligohidramnion secara primer karena pertumbuhan amnion yang kurang baik, sedangkan secara sekunder yaitu ketuban pecah dini (Marmi, ddk, 2011:111).
c. Patofisiologis
Pecahnya membran adalah penyebab paling umum dari oligohidramnion. Namun, tidak adanya produksi urine janin atau penyumbatan pada saluran kemih janin dapat juga menyebabkan oligohidramnion. Janin yang menelan cairan amnion, yang terjadi secara fisiologis, juga mengurangi jumlah cairan. Beberapa keadaan yang dapat menyebabkan oligohidramnion adalah kelainan kongenital, Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT), ketuban pecah, kehamilan postterm, insufiensi plasenta dan obatobatan (misalnya dari golongan antiprostaglandin). Kelainan kongenital yang paling sering menimbulkan oligohidramnion adalah kelainan sistem saluran kemih dan kelainan kromosom (Prawirohardjo, 2010:155).
Pada insufisiensi plasenta oleh sebab apapun akan menyebabkan hipoksia janin. Hipoksia janin yang berlangsung kronik akan memicu mekanisme redistribusi darah. Salah satu dampaknya adalah terjadi penurunan aliran darah ke ginjal, produksi urin berkurang dan terjadi oligohidramnion (Prawirohardjo, 2010:269).
d. Komplikasi oligohidramnion
Menurut Manuaba, dkk. (2007:500) Komplikasi oligohidramnion dapat dijabarkan sebagai berikut:
1) Dari sudut maternal
Komplikasi oligohidramnion pada maternal tidak ada kecuali akibat persalinannya oleh karena:
a) Sebagian persalinannya dilakukannya dengan induksi
b) Persalinan dilakukan
dengan tindakan sectio sesaria
Dengan demikian komplikasi maternal adalah trias komplikasi persalinan dengan tindakan perdarahan, infeksi, dan perlukaan jalan lahir.
2) Komplikasi terhadap janinya
a) Oligohidramnionnya
menyebabkan tekanan langsung terhadapat janinnya:
(1) Deformitas janin
adalah:
(a) Leher terlalu
menekuk-miring
(b) Bentuk tulang kepala
janin tidak bulat
(c) Deformitas
ekstermitas
(d) Talipes kaki terpelintir keluar
(2) Kompresi tali pusat langsung sehingga dapat menimbulkan fetal distress
3) Fetal distress menyebabkan makin terangsangnya nervus
Vagus dengan dikeluarkannya mekonium semakin mengentalkan air ketuban
(a) Oligohidramnion makin menekan dada
sehingga saat lahir terjadi kesulitan bernapas karena paru-paru mengalami
hipoplasia sampai atelektase paru
(b) Sirkulus yang sulit diatasinya ini
akhirnya menyebabkan kematian janin intrauterin
e. Penatalaksanaan
Penanganan oligohidramnion bergantung pada situasi klinik dan dilakukan pada fasilitas kesehatan yang lebih lengkap mengingat prognosis janin yang tidak baik. Kompresi tali pusat selama proses persalinan biasa terjadi pada oligohidramnion, oleh karena itu persalinan dengan sectio caesarea merupakan pilihan terbaik pada kasus oligohidramnion (Khumaira, 2012:189). Menurut Rukiyah dan Yulianti (2010:233) Penatalaksanaan pada ibu dengan oligohidramnion yaitu :
1) Tirah baring
2) Hidrasi dengan kecukupan cairan
3) Perbaikan nutrisi
4) Pemantauan kesejahteraan janin (hitung pergerakan janin)
5) Pemeriksaan USG yang
umum dari volume cairan amnion
Polihidramnion
1. Pengertian
Adalah kondisi cairan ketuban yang berlebihan pada ibu hamil. Cairan ini mengelilingi janin selama kehamilan.Polihidramnion sejatinya termausk jarang. Pasalnya, kondisi ini hanya terjadi pada sekitar 1-2 persen kehamilan.Pada kebanyakan kasus, tingkat polihidramnion tergolong ringan dan merupakan hasil dari penumpukan air ketuban secara bertahap pada trimester kedua kehamilan. Jika calon ibu didiagnosis mengalami polihidramnion, dokter akan memantau kehamilan secara saksama untuk mencegah komplikasi. Perawatan yang diberikan tentu akan tergantung pada tingkat keparahan kondisi tersebut.Polihidramnion tingkat ringan bisa sembuh dengan sendirinya. Sedangkan polihidramnion tingkat berat akan membutuhkan pemantauan medis yang lebih ketat.
2. Gejala polihidramnion
Umumnya berasal dari tekanan yang ditimbulkan di dalam rahim dan ke organ-organ terdekat. Polidramnion ringan umunya tidak menyebabkan gejala apapun. Sedangkan pada tingkat berat, polidramnion dapat menyebabkan:
·
Sesak napas atau kesulitan bernapas.
·
Sensasi
panas seperti terbakar pada dada (heartburn).
·
BagianTubuh bagian bawah yang membengkak, misalnya kaki.
·
Penurunan
produksi urine.
·
Perut
terasa kencang atau terasa sangat besar.
·
Malposisi
fetus, seperti posisi sungsang.
· Pembengkakan pada vulva (bagian uar vagina).
Gejala-gejala di atas mungkin umum dialami oleh wanita hamil dan tidak harus disebabkan oleh polihidramnion. Karena itu, Anda perlu lebih waspada. Konsultasikan ke dokter kandungan jika Anda mengalami dan menkhawatirkan gejala-gejala tersebut.Pada kasus yang langka, cairan ketuban dapat terbentuk di sekeliling bayi dengan cepat. Segera hubungi dokter kandungan apabila kehamilan tiba-tiba bertambah besar.
3. Penyebab
Hingga sekarang, penyebab polihidramnion belum bisa dipastikan. Namun para pakar medis menduga faktor-faktor di bawah ini bisa mempertinggi risikonya:
ü
Hamil anak kembar atau lebih.
ü Ibu
hamil yang terkena diabetes, termasuk diabetes yang disebabkan oleh kehamilan (gestational diabetes).
ü
Penyumbatan pada usus bayi (atresia usus).
ü
Permasalahan dengan plasenta.
ü
Sel darah janin diserang oleh sel-sel darah ibu
(penyakit rhesus).
ü
Penumpukan cairan pada janin (hidrops fetalis).
ü
Permasalahan genetik pada janin.
ü Twin-twin
transfusion. Kondisi ini merupakan komplikasi yang mungkin terjadi pada kehamilan bayi kembar
identik, di mana salah satu janin memiliki terlalu banyak darah, sementara
janin satunya memiliki darah yang terlalu sedikit.
ü
Mengalami infeksi saat kehamilan.
ü
Anemia pada janin.
Banyak bayi dengan ibu yang mengalami polihidramnion bisa tetap terlahir sehat. Konsultasi dengan dokter atau bidan jika Anda prihatin atau memiliki pertanyaan.
Mola hydatidosa
1. Pengertian
Mola hydatidosa atau hamil anggur adalah pembentukan ari-ari (plasenta) yang abnormal saat kehamilan. Hamil anggur tergolong komplikasi kehamilan yang jarang terjadi. Plasenta atau ari- ari yang terbentuk pada penderita hamil anggur tidak normal dan terbentuk seperti sekumpulan anggur. Sering kali janin sama sekali tidak terbentuk, hanya jaringan plasenta yang abnormal.
Hamil anggur sulit terdeteksi pada awal kehamilan, karena pada awalnya mirip dengan kehamilan normal. Hamil anggur akan terdeteksi oleh dokter kandungan saat pemeriksaan rutin kehamilan. Seseorang yang pernah mengalami hamil anggur akan lebih berisiko mengalami hamil anggur kembali di kemudian hari.
2. Etiologi Kehamilan Mola
Hamil anggur (mola hydatidosa) terjadi karena awal proses pembuahan yang tidak normal. Bisa karena sperma yang membuahi sel telur kosong atau terdapat 2 sperma yang membuahi satu sel telur. Pada kondisi sel sperma yang membuahi sel telur kosong disebut dengan hamil anggur lengkap. Pada hamil anggur lengkap, sel terbentuk hanya dari gen ayah sehingga janin tidak terbentuk. Namun, plasenta atau ari-ari tetap tumbuh dan tumbuh menjadi tidak normal. Pada kondisi 2 sel sperma yang membuahi 1 sel telur disebut dengan hamil anggur sebagian. Pada kondisi ini terdapat tambahan genetik dari ayah, sehingga hasil pembuahan tidak bisa bertahan lama atau mati dalam beberapa minggu.
3. Tanda dan Gejala Kehamilan Mola
Tanda-tanda hamil anggur awalnya sama dengan kehamilan normal. Namun seiring pertambahan usia kehamilan, hamil anggur (mola hydatidosa) bisa ditandai dengan gejala khusus, seperti:
-
Perdarahan pada trimester pertama. Terkadang perdarahan ini
bisa mirip dengan perdarahan implantasi.
- Mual dan muntah yang sangat parah.
- Perut terlihat membesar melebihi usia kehamilan.
- Keluarnya cairan berwana kecoklatan atau gumpalan-gumpalan seperti anggur dari dalam vagina.
- Nyeri panggul.
a. Komplikasi Kehamilan Mola
Ada beberapa komplikasi yang dapat timbul setelah mengalami hamil anggur (mola hydatidosa), antara lain:
- Gestational trophoblastic neoplasia
Komplikasi ini lebih banyak terjadi pada penderita hamil anggur lengkap, yang ditandai dengan HCG yang tetap tinggi setelah kuret. Gestational trophoblastic neoplasia terjadi ketika sel abnormal masuk ke bagian tengah dinding rahim.
-
Choricarcinoma
Choriocarcinoma merupakan bentuk kanker dari gestational trophoblastic neoplasia. Meski jarang terjadi, kanker ini lebih sering dialami penderita hamil anggur lengkap.
- Mengalami hamil anggur kembali
Penderita hamil anggur berisiko mengalami hamil anggur kembali pada kehamilan berikutnya. Risiko ini lebih tinggi jika dialami penderita yang sudah mengalami beberapa kali hamil anggur atau mereka yang pernah keguguran.
b. Pencegahan Kehamilan Mola
Hamil anggur terjadi karena kesalahan gen dalam proses pembuahan. Oleh karena itu, kondisi ini sulit dicegah. Kendati demikian, terdapat beberapa upaya yang bisa dilakukan pada penderita hamil anggur untuk mengurangi kemungkinan terjadinya hal serupa di kehamilan selanjutnya. Salah satu upaya untuk mengurangi risiko kembali mengalami hamil anggur (mola hydatidosa) adalah menunda kehamilan, setidaknya setahun setelah kuret. Untuk mencegah kehamilan, gunakan alat kontrasepsi. Semua alat kontrasepsi dapat digunakan, kecuali KB spiral. Pemeriksaan rutin ke dokter kandungan perlu dilakukan jika hamil kembali setelah hamil anggur, untuk memastikan pertumbuhan plasenta dan janin berlangsung normal.
Komentar
Posting Komentar